Menunda melahirkan penantian. Dan penantian kerapkali disertai buah manis, sejenis penantian yang melahirkan harapan. Namun tak jarang penantian juga berujung pahit, tapi justru dari itulah kewaspadaan lahir.

Penantian itulah yang jadi desahan napas, atau suasana kebatinan IGEGAMA selama dua tahun terakhir. Paguyuban alumni kita ini dalam dua tahun terakhir tetap ‘bernapas’ walau dengan helaan dan hembusan napas yang pas-pasan. Cukup untuk bertahan hidup, tapi masih terbatas untuk bisa berjalan tegap. Kepengurusan ada, masih bisa menggelar syawalan setahun sekali, dan mengurutus wakil pengurus pada penyematan pin alumni kala wisuda.

Ini jelas bukan olok-olok, terutama kepada duet Mas Sodiq Suhardiyanto dan Kang Iwan Syamariansyah yang sejak 2010 dipilih sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum telah bekerja lumayan keras untuk menggairahkan paguyuban ini. Dengan bantuan beberapa pengurus lain seperti Totok Sedyantoro (86), Muh. Najib (85)., Sartono (85), M. Ichwan (97), Ivan Royfani (97), untuk sekedar menyebut beberapa nama, beberapa kegiatan tahunan di atas bisa digelar.

IMG_4328

Foto : Embun Tiur Tantra

Di luar itu beberapa langkah informal untuk melobi beberapa agenda, mengawal rekan alumni yang hendak menanjak, dan ikut mewarnai kegiatan Kagama kiranya juga patut dicatat. Singkatnya kepengurusan Mas Sodiq dan Kang Iwan masih menyisakan catatan positif.

Kalau begitu, lalu kenapa situasi IGEGAMA ini disebut penantian? Dibilang penantian karena regenerasi tertunda dan arah yang mulai agak buram – kalau tidak bisa disebut tanpa arah. Penantian yang buram walau hanya setahun lebih dari masa yang dipatok di awal oleh PP KAGAMA, menyesakkan juga terutama kalau ditanyai, “siapa pengurus sekarang?”, “apa rencana IGEGAMA dalam waktu dekat?”. “mengapa tidak begini, tidak begitu?” dan sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan begini jelas standar, standard banget; dan lebih gampang diajukan daripada dilakoni. Tapi betapapun, pertanyaan-pertanyaan tersebut valid dalam berorganisasi: cerminan harapan, cerminan pembacaan peluang dan tentu saja cerminan kekhawatiran pada stagnasi. Maka suksesi jadi resep generik untuk berbenah. Tidak terkecuali IGEGAMA.

Sejak dua tahun lalu pembicaraan tentang kongres atau musyawarah besar sudah dimulai. Berbagai kendala teknis pengorganisasian jadi pengganjal hingga kemudian pada syawalan tahun 2015 di Aula Kementerian Perdesaan dan daerah Tertinggal di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan, ibarat cahaya di ujung lorong gelap. Kehadiran mereka yang cukup banyak saat itu membuat mereka didapuk untuk menjadi tuan rumah syawalan tahun 2016, sekaligus untuk kongres IGEGAMA.

Forum yang dinanti akhirnya digelar dengan penggelaran yang barangkali paling baik selama enam tahun terakhir. Oleh Angkatan 93 yang dimotori oleh Deny Purwosambodo, Syanti (dari Semarang), Suci Dian (Banda Aceh), Diah Saraswati, Heni Yulianto, Joko Widodo, Embun Tiur Tantra, dkk, Temu Kangen dan Kongres Igegama akhirnya tergelar Sabtu 13 Agustus 2016.

Sayang dengan kesiapan penuh yang mereka kerahkan untuk 150 peserta, hanya hadir kurang dari 60 orang dengan berbagai sebab; banyak angkatan yang bahkan tak punya ‘wakil’ sama sekali.

IMG_4172

Foto : Embun Tiur Tantra

Walau begitu, dengan kehadiran yang hanya terbatas, Kongres IGEGAMA sebagai forum pengambilan keputusan tertinggi masih dapat digelar dengan panduan Anggaran Dasar KAGAMA. Beberapa hal berikut adalah telur yang berhasil dikeluarkan:

Satu. Disepahami dalam Kongres bahwa makin banyak anggota IGEGAMA yang menapaki puncak karir yang bergengsi. Potensinya ada. Peluangnya juga terbuka. Ke depan diduga kuat kesempatan makin banyak. Apalagi, sesuai dengan laporan Dekan Profesor Rijanta, tingkat persaingan masuk mahasiswa baru Fakultas Geografi makin ketat, mutu pembelajaran di kampus makin tinggi, alumni diduga kuat akan makin kompetitif di dunia kerja; dalam 10-15 tahun ke depan mereka akan masuk orbit puncak.

Persoalnnya adalah pelajaran pahit yang dialami beberapa alumni dalam berusaha memasuki orbit penting – ada yang dikerjain, bahkan dengan cara-cara kasar. Kisah nyata yang pahit patut menjadi pelajaran tentang pentingnya berjejaring, saling dukung, saling jaga.

IGEGAMA diharap menjadi salah satu penjuru para alumni, selain KAGAMA sebagai rumah bersama. Tentu kita tidak sedang bermaksud membangun praktek perkoncoan baru, yang kita bangun adalah solidaritas yang beralaskan profesionalisme tinggi dan integritas terbaik. Kita hanya tak ingin ada lagi yang dikerjain. Kita mau meritokrasi, kompetisi yang sehat dan terbuka.

Dua. Guna menghela harapan konsolidasi paguyuban dalam suasana kekeluargaan saat persidangan kongres, terpilih Totok Sedyantoro (1985) sebagai Ketua Umum IGEGAMA 2016-2020. Dia diberi kesempatan membentuk susunan pengurus lengkap IGEGAMA 2016-2020 selama dua minggu, dibantu oleh Rahmat S. Arifin (1992) dan Deny Purwosambodo (1993), keduanya sebagai formatur.

Tiga. Pengurus IGEGAMA 2016-2020 harus membentuk gugus tugas yang merapikan Anggaran Dasar IGEGAMA yang disesuaikan Anggaran Dasar KAGAMA hasil keputusan Musyawarah Nasional di Kendari 2014.

Akhir kalam, suksesi pengurus IGEGAMA sudah usai. Setelahnya adalah masa kerja di sela-sela kesibukan professional masing-masing. Tantangan tidak ringan, meski banyak yang bilang mengurus paguyuban alumni itu sebenarnya tak sulit. Kesulitannya ‘hanya’ terletak pada menemukan formula yang pas mengelola spririt silaturrahim dan solidaritas untuk dipadukan dengan misi mengagregasikan kepentingan alumni dan almamater dalam ruang yang terbuka walau sebenarnya juga terbatas.

Harapan yang pelik, tapi Mas Totok Sedyantoro akhirnya bersemangat, setelah sempat hendak menolak, saat akhirnya diberi tanggung jawab ini. Mari kita bantu dia menghidupkan IGEGAMA untuk kegembiraan kita bareng-bareng. (Ridaya Laodengkowe, 94).

 

Catatan dari kongres Ikatan Geografiwan Alumni Universitas Gadjah Mada (IGEGAMA), Sabtu 13 Agustus 2016, Aula BPPT, Jl. Thamrin, Jakarta Pusat.

 

IMG_4376

Sebagian dari angkatan 1993 yang menjadi panitia acara ini. Foto : Embun Tiur Tantra

Ditulis oleh Ridaya Laodengkowe, aka Dayat Laodengkowe untuk GEGAMA.ID