Industri Geospasial di Era 4.0

Tantangan dan Peluang Indonesia
Oleh: Aloysius Susanto, Sukendra Martha, Aris Poniman

I. Latar Belakang
Revolusi Industri 4.0 (Fourth Industrial Revolution atau 4IR) telah tiba dan pengaruhnya akan melanda institusi publik dan dunia usaha. Perubahan mendasar yang bersifat struktural dan fundamental akan berpengaruh terhadap seluruh sektor baik yang selama ini menjadi tugas/domain pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Industri Geospasial merupakan salah satu sektor dari sekian banyak sektor yang terkena imbasnya era industri 4.0 tersebut. Oleh karena itu mengenali apa yang terjadi dengan revolusi industri 4.0 akan mempermudah langkah-langkah antisipasi baik terhadap perkembangan teknologi, infrastruktur, maupun penyiapan sumber daya manusia berikut kebijakaan maupun peta jalan (road map) yang akan dibuat.
Menarik mencermati apa yang disampaikan dalam “Global Outlook 2018: Spatial Information Industry” (2018) yaitu publikasi tentang perkembangan teknologi yang terkait langsung dengan teknologi informasi spasial. Buku ini dipublikasikan oleh Pusat Riset Informasi Spasial Kerjasama Australia dan New Zealand (The Australia and New Zealand Cooperative Research Centre). Beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian akibat dari industri 4.0 antara lain adalah:

  1. Ekonomi global mengalami perubahan fundamental atau disrupsi (disruption) yang bersifat masif dengan adanya digital teknologi. Sebagai contoh Australia menyebutkan 1/3 ekonominya akan mengalami disrupsi yang substansial oleh teknologi digital dan model bisnis.
  2. Era industri 4.0 menghasilkan berbagai teknologi seperti: sistem cyber-physical, cloud computing, multilevel custumer interaction and profiling, big data analytics and advanced algorithims, smart sensors, 3D printing, advanced human-machine interfaces, internet of things platforms, robots, location-detection technologies, dan lain sebagainya.
  3. Untuk teknologi yang terkait dengan informasi/industri geospasial beberapa diantaranya: advanced sensor technologies; drones; space and satellite developments including micro, nano and cube satellites; dan beberapa puluh atau ratus satelit yang didesain untuk dapat beroperasi secara terintegrasi.
  4. Berdasarkan data dari Geospatial Media, pasar geospasial akan terus bertumbuh. Tahun 2018 sebesar US$ 339 milyar dan tahun 2020 bertumbuh menjadi US$ 439.2 milyar. Industri geospasial yang mempunyai perkembangan cukup cerah berasal dari sektor: transportasi, pertanian, kesehatan, pertahanan dan keamanan, energi, dan lingkungan.
  5. Sampai tahun 2026 diperkirakan satelit yang mengorbit (untuk semua kelas: komunikasi, penentuan posisi, pengamatan bumi, dlsb.) mencapai 6200 satelit yang bernilai US$ 30 milyar. Khusus untuk satelit pengamatan bumi (berdasarkan data Agustus 2017) berjumlah 597 satelit dan diprediksi akan bertambah menjadi 1100. Satelit navigasi (Global Navigation Satellite System) saat ini mempunyai nilai pasar sebesar US$ 201,5 milyar dan pada tahun 2020 akan bertumbuh menjadi 260,8 milyar.
  6. Beberapa teknologi seperti: indoor location based services, global internet, 3D scanning technology juga akan akan berkembang baik dari aspek teknologi maupun nilai pasar (market value).

Perkembangan revolusi industri 4.0 yang bercirikan perkembangan teknologi digital dan fisik mesin membentuk jaringan yang menyatu. Kondisi ini mengharuskan masyarakat global dan Indonesia khususnya untuk mengambil langkah-langkah yang terencana, bertahap, namun cepat agar kehadiran era industri 4.0 bukan menjadi “pembunuh” tetapi menjadi ‘jembatan emas sekaligus rumah idaman” bagi seluruh bangsa dan rakyat Indonesia. Peta Jalan perlu disiapkan dan seluruh komponen bangsa harus bergandeng tangan, menyingsingkan lengan baju, dan bahu membahu untuk menyambut era 4.0. dengan penuh harapan walaupun banyak tantangan yang dihadapi.
Revolusi industri 4.0 akan merombak tata kerja industri dan berbagai aspek kehidupan manusia di bumi ini. Semua negara ingin tetap hidup (survive) dan semakin meningkat kesejahteraannya. Untuk itu tidak ada jalan lain untuk menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 tersebut dengan konsep, strategi, dan mengubah pola kerja yang lebih cerdik sehingga dapat keluar sebagai “penakluk” revolusi industri 4.0. Indonesia mempunyai intensi bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) pada urutan ke-10 (saat ini masih di urutan ke- 16). Selain itu Indonesia juga mempunyai intensi agar bonus demografi, dimana jumlah penduduk produktif lebih besar dari non produktif, dapat didayagunakan untuk meningkatkan produktifitas industri manufaktur dan industri lainnya yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi pada komoditas ekspor. Peran industri manufaktur yang banyak menyedot tenaga kerja selama beberapa tahun terakhir mengalami penurunan. Bertambahnya penduduk berusia produktif memberikan konsekwensi kepada pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja. Diperkirakan sampai tahun 2030 lapangan kerja akan bertambah 30 juta orang. Untuk itu revolusi industri 4.0 harus dimanfaatkan secara sadar dan terencana dengan baik sehingga apa yang menjadi intensi Indonesia yaitu menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke 10 di dunia dapat tercapai. Industri 4.0 harus mampu meningkatkan produktifitas dan sekaligus daya saing tenaga kerja Indonesia dalam persaingan global. Kementerian Perindustrian bersama instansi pemerintah terkait, asosiasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, dan lembaga riset dan pendidikan telah membuat peta jalan industri 4.0 yang disebut “Making Indonesia 4.0”. Peta Jalan ini memberikan arah dan strategi bagi industri di masa mendatang. Peta Jalan tersebut juga menetapkan 5 sektor yang menjadi fokus dan 10 prioritas nasional sebagai upaya memperkuat struktur perindustrian Indonesia. Beragam teknologi dapat didayagunakan untuk meningkatkan produktifitas industri Indonesia. Teknologi tersebut antara lain: kecerdasan buatan (artificial intelligence), Internet of Things, wearables, robotika canggih, dan 3D printing. Dalam peta jalan yang dibuat Kementerian Perindustrian dengan para pemangku kepentingan telah menetapkan 5 (lima) sektor utama untuk penerapan awal dari teknologi tersebut yaitu untuk: (1) makanan dan minuman, (2) tekstil dan pakaian, (3) otomotif, (4) kimia, dan (5) elektronik. Menurut Kementerian Perindustrian pemilihan tersebut atas dasar: evaluasi dampak ekonomi dan kelayakan implementasi yang mencakup ukuran PDB, perdagangan, dampak terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar.
Sekalipun secara eksplisit tidak disebutkan industri yang terkait dengan geospasial, namun masyarakat geospasial Indonesia harus menyiapkan diri untuk masuk ke era revolusi industri 4.0 baik dalam bentuk cetak biru (blue print) maupun peta jalan. Berbagai negara dihampir semua belahan bumi telah dan sedang merancang bagaimana memanfaatkan potensi teknologi era industri 4.0 mendorong berbagai industri geospasial agar juga memberikan kontribusi secara ekonomi kepada negara. Beberapa teknologi industri 4.0 yang dapat didayagunakan untuk menciptakan dan mendorong industri geospasial adalah: cloud computing, data besar (big data), teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence technologies), internet untuk berbagai hal (Internet of Things), augmented and virtual reality, dan otomatisasi (automation). Tantangan ini harus dijawab oleh masyarakat geospasial Indonesia, sehingga Indonesia bisa memetik hasil berupa penciptaan, pengembangan, dan inovasi berbagai lapangan pekerjaan dari industri geospasial yang berbasiskan revolusi industri 4.0. Industri geospasial adalah industri yang menghasilkan produk dan jasa yang terkait dengan geospasial. Satelit observasi bumi, satelit navigasi, perangkat keras dan lunak, drone untuk pemetaan, survei dan pemetaan, Google Map, Waze, jasa pelatihan dan sertifikasi SDM bidang geospasial merupakan contoh-contoh industri geospasial.

Cuplikan Serial Kajian Geografi Vol 1 No 1 Maret 2019